DITANYA KAPAN MULAI PERKETAT KEBIJAKAN, PM JEPANG : TERSERAH KEPADA BOJ

IQPlus, (21/01) - Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida menyerahkan kepada Bank of Japan (BoJ) untuk memutuskan kapan menerapkan strategi keluar dari program stimulus besar-besaran. Hal itu sejalan dengan rekan-rekan bank sentral lainnya di dunia mulai memperketat kebijakan karena tingkat inflasi melonjak. "Terserah kepada Bank of Japan untuk memutuskan kebijakan moneter tertentu, termasuk pemikiran untuk keluar dari pelonggaran moneter," kata Kishida kepada parlemen, ketika ditanya di parlemen tentang meningkatnya biaya hidup, dilansir dari Channel News Asia, Jumat, 21 Januari 2022. "Kami berharap BoJ terus melakukan upaya untuk mencapai target inflasi dua persen," tambahnya. Komentar Kishida datang sebagai tanggapan atas pertanyaan dari Anggota Parlemen oposisi Hitoshi Asada, yang meminta pemerintah untuk fokus pada reformasi struktural daripada terlalu bergantung pada kebijakan moneter ultra-longgar guna mencerminkan pertumbuhan. "Kebijakan ultra-longgar tidak dapat berlanjut tanpa batas. Tanpa reformasi, itu hanya akan menyebabkan kenaikan harga. Kami mendekati batas dan potensi keluar dari kebijakan yang mudah," kata Asada. Dengan inflasi konsumen jauh di bawah target dua persen, BoJ telah menekankan untuk tidak terburu-buru keluar dari kebijakan ultra-mudah dan menggambarkan inflasi dorongan biaya baru-baru ini sebagai sementara. Tetapi beberapa anggota parlemen oposisi telah memperingatkan adanya pukulan terhadap rumah tangga dari kenaikan harga makanan dan bahan bakar menjadi sebuah tanda inflasi yang merayap dan muncul sebagai topik politik menjelang pemilihan majelis tinggi yang dijadwalkan akhir tahun ini. Pembuat kebijakan melihat pertumbuhan upah yang lebih tinggi sebagai hal yang penting untuk mengurangi rasa sakit pada rumah tangga dan menarik ekonomi keluar dari kelesuan yang disebabkan oleh dampak pandemi covid-19. (end/ba)

Share this Post

Whatsapp